Pastikan anda tercatat di sensus.bps.go.id mulai tanggal 15 Februari sampai dengan 31 Maret 2020 atau terima kedatangan petugas Sensus pada tanggal 1 sampai dengan 31 Juli 2020.

Salakan, BanggaiKep.go.id – Pelaksanaan Sidang Sinode V GPIBK Tahun 2020 yang dipusatkan di Jemaat Immanuel Salakan Klasis Salakan Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah sejak 11 s/d 15 Februari mendapat perhatian khusus dari Wakil Gubernur Prov. Sulteng.
Kehadiran Wagub Rusly Baco Dg. Palabi disambut hangat oleh para peserta sidang sinode diselah-selah acara sidang hari terakhir (15/2), beliau pun diberikan waktu dan kesempatan membawakan sambutan menjelang pemilihan pemimpin Sinode GPIBK.
Dalam sambutannya, Rusly Baco Dg. Palabi mengapresiasi akan peran Gereja Protestan Indonesia di Banggai Kepulauan (GPIBK) yang terus meningkatkan kualitas umat kristiani yang ada di Banggai Kepulauan, Wagub juga mengajak pimpinan gereja dan warga gereja memberikan perhatian khusus terhadap krisis multidimensi dan etika, “Karena ini menjadi tanggungjawab kita bersama” ujar Wagub.
Rusly Baco Dg. Palabi pun mengajak untuk membangun tatanan umat beragama, karena keragaman dan kemajemukan bukanlah suatu ancaman yang membawa kita pada perpecahan tetapi justru menjadi anugerah untuk memperkuat simpul-simpul persatuan sebagai bangsa yang berketuhanan dan berkebudayaan, dalam mewujudkan Sulawesi Tengah yang maju dan mandiri serta berdaya saing yang indikatornya adalah peningkatan SDM yang beriman dan bertaqwa, kegiatan persidangan ini adalah bukti nyata dari umat kristiani.
Dalam sambutannya pun Wagub menyampaikan bahwa “Sebenarnya kehadirannya pada Sidang Sinode ini bersama-sama dengan Plt. Bupati H. Rais D. Adam tetapi karena beliau ada tamu dan beliau pun mengalami dukacita atas meninggalnya salah satu kerabat dekat maka beliau tidak sempat hadir dan memohon maaf”, ujar Rusly. (JARKominfo)

JAKARTA, BanggaiKep.go.id – Tiga warga Provinsi Sulawesi Tengah bersama 235 WNI dari episenter penyebaran virus corona baru (Covid-19) di Wuhan, China yang sebelumnya menjalani observasi di Kepulauan Natuna, tiba di Lanud TNI AU Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Sabtu sore (15/2/2020).

Ratusan WNI dari berbagai daerah di Indonesia itu, diterbangkan dari Kepulauan Natuna ke Lanud Halim Perdana Kusuma dalan tiga kelompok terbang (kloter) menggunakan tiga pesawat milik TNI AU.

Tiga WNI asal Provinsi Sulaweai Tengah, yakni Rifdah Nur Aliyah (19 tahun), Asrida Afriyanti (20 tahun) dan Julita (18 tahun), masuk dalam kloter 2 dan 3 menggunakan pesawat jenis boing milik TNI AU. Sementara kloter 1 menggunakan pesawat Hercules TNI AU adalah para WNI laki-laki.

Rifdah Nur Aliyah, Asrida Afriyanti dan Julita adalah mahasiswa asal Sulawesi Tengah yang sedang kuliah di universitas berbeda di Provinsi Hubei, Tiongkok.

Rifda Nur Aliya tiba lebih dulu di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pukul 15.20 WIB. Rifda Nur Aliya disambut oleh Kepala Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Tengah, Jemy Fischer yang sudah menunggu di Lanud Halim Perdana Kusuma sejak pukul 14.30 WIB.

Rifda Nur Aliyah terdaftar sebagai mahasiswi di Hubei Minzu University sejak Desember 2018. Kurun setahun lebih ia menetap di Kota Enshi yang jaraknya 520 Km dari Wuhan, ibukota Provinsi Hubei.

“Kota tempat tinggal ku lumayan jauh dari Wuhan. Bisa 7 jam perjalanan darat. Seperti dari Palu ke Tolitoli atau dari Palu ke Ampna,” kata Rifda diawal perbincangan dengan Jemy Frischer, Kepala Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Tengah.

Jemy Frischer ditugaskan khusus oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, untuk menjemput dan mengurus kepulangan tiga WNI asal Sulawesi Tengah dari Jakrata ke kampung halamannya masing-masing di Sulteng.

Sementara, Julita dan Asrida Afriyanti yang tergabung dalam kloter 3, tiba di Lanud Halim Perdana Kusuma pukul 15.50 WIB. Saat itu hujan deras mulai mengguyur kawasan Lanud Halim Perdanakusuma.

Julita adalah mahasiswi kelahiran Tolitoli. Kedua orang tuanya tinggal di Desa Ogomoli, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. Ia baru dua bulan menetap di Kota Xianning, Provinsi Hubei, dan kuliah di Hubey University of Science and Technology.

Sedangkan Asrida Afriyanti adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran di universitas di Kota Huangshi, Provinsi Hubei. Asrida berasal dari Luwuk, Kabupaten Banggai.

Rifdah Nur Aliyah, Asrida Afriyanti dan Julita, bersama ratusan WNI lainnya sempat menjalani masa observasi selama 14 hari di Kepulauan Natuna. Langkah tersebut dilakukan Pemerintah Indonesia untuk memastikan kondisi kesehatan para WNI yang dipulangkan dari Tiongkok.

Setelah dipastikan negatif Covid-19 atau virus corona, hari ini 238 WNI tersebut dipulangkan ke daerah masing-masing. Selanjutnya, di daerah masing-masing mereka akan diperiksa secara berkala (surveillance tracking)vguna memastikan kondisi mereka tetap sehat.

Terkait jadwal kepulangan Rifdah Nur Aliyah, Asrida Afriyanti dan Julita dari Jakarta ke Palu, Sulaweai Tengah, Jemy Frischer menjelaskan pihak Pemprov Sulteng sudah menyiapkan akomodasi dan tiket pesawat mereka.

“Rifda dan Julita pulang ke Palu dan Tolitoli Minggu, 16 Februari menggunakan pesawat komersil. Sedangkan Asrida sudah dijemput keluarganya di Jakara,” ujar Jemy Frischer.

Awal Desember 2019 lalu, muncul sebuah wabah baru di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China dengan gejala mirip flu dan pneumonia berat. Virus corona berjenis SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 itu telah menginfeksi lebih dari 60 ribu orang dan menyebabkan kematian 1.383 jiwa per Jumat (14/2/2020). (Sumber: OTR KOMINFO SULTENG).(FeriKominfo)