Pos

Talas-talas, BanggaiKep.go.id – Pendataan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa 2021 ialah mengimplementasikan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat berbasis data. Proses penggalian pengumpulan pencatatan verifikasi dan validasi data SDGs Desa dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Relawan Pendataan Desa.

Dalam konteks pembangunan desa, dibutuhkan arah pembangunan yang lebih sesuai kondisi lapangan, yaitu yang detil atau mikro, mencakup aspek metode, substansi, dan tujuan akhir, serta tertuju pada kawasan yang sangat kecil, sampai pada pemanfaatan keluarga atau individu.

Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan berposisi mengisi segenap kebutuhan tersebut. Kini, Indonesia menterjemahkan sampai pada level desa menjadi SDGs Desa.

Tujuan pendataan SDGs Desa ialah Menyusun Pokja Relawan Pendataan Desa, Memutakhirkan data pada level desa, rukun tetangga, keluarga dan warga, Menganalisis data sesuai kaidah SDGs Desa dan Merekomendasikan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat sesuai hasil analisis.

Guna mencapai tujuan tersebut Tim Relawan Pokja SDGs Desa Talas-talas Kecamatan Buko turun langsung ke Dusun Komunitas Adat Terpencil (KAT) Monggolit Desa Talas-talas pada Sabtu, 1 Mei 2021 meski pun perjalanan menuju ke lokasi pendaratan di KAT Monggolit cukup menantang.

Disamping jarak yang ditempuh cukup jauh kira-kira 16 KM dari Desa Induk Talas-talas, jalan yang dilalui juga sangat menantang karena ruas jalan Desa Paisubatu menuju Eben rusak total sehingga beberapa kali rombongan Tim Relawan Pokja SDGs Desa Talas-talas harus turun jalan kaki.

Demikian juga ketika dari ruas jalan Paisubatu-Ebenheizer Tim Relawan Pokja SDGs harus menempuh jarak kurang lebih 5 KM menuju Dusun KAT Monggolit dengan kondisi jalan yang juga sangat menantang, “Tapi apa boleh dikata ini sudah menjadi tanggungjawab,” ucap ketua BPD Desa Talas-talas Tinny Welliang yang disapa Ci Liu.

Kepala Desa Talas-talas Jefri Welong berharap Pemerintah Daerah dapat segera memperbaiki dan meningkatkan pembangunan ruas jalan Paisubatu-Ebenheizer dan KAT Monggolit agar pelayanan kepada masyarakat bisa maksimal. (Amos Kominfo)

Talas-talas, BanggaiKep.go.id – Kepala Desa Talas-talas Kecamatan Buko Kabupaten Banggai Kepulauan Jefri Welong berharapkan agar generasi muda Desa Talas-talas dapat melestarikan alat musik bambu yang merupakan alat musik tradisional di Desa Talas-Talas.

Menurutnya, jangan seiring dengan berkembangnya zaman dan hadirnya alat musik modern maka kita sebagai generasi muda tidak lagi melestarikan alat musik tradisional yang memiliki nilai budaya dan keunikan tersendiri.

“Saya berharap generasi muda yang ada di Desa Talas-talas dapat terus melestarikan alat musik tradisional,” harap Jefri.

“Kiranya para orang tua yang memainkan alat musik bambu untuk tidak bosan mengajarkan kepada generasi muda yang ada agar musik bambu di Desa Talas-talas tetap terlestarikan,” lanjut Jefri.

Sementara itu, Erien Welong yang merupakan tokoh masyarakat dan juga mantan Kepala Desa beberapa periode saat dijumpai Jurnalis Kominfo Kamis, (29/10/2020) menceritakan asal mula musik bambu yang ada di Desa Talas-talas.

Menurut Erien, Musik bambu di Desa Talas-Talas dibuat oleh Bapak Sitem Kambotan bersama saudaranya, kemudian beliau bersama saudaranya mengumpulkan beberapa orang untuk memainkan alat musik yang ada dengan bunyi nada yang berbeda-beda.

“Dulu sebelum ada alat musik modern setiap kali ada acara dikampung musik bambu ini yang menjadi hiburan, apalagi dimasa perayaan natal dan tahun baru,” ungkap Erien. (AmosKominfo)

Talas-talas, BanggaiKep.go.id – Berhasilnya sebuah sekolah di lingkup pendidikan dalam peningkatkan mutu dan kwalitas siswanya bukan hanya tersedianya tenaga pendidik yang berkompoten serta profesional, tetapi juga harus ditunjang dengan ketersediaannya sarana prasarana penunjang lancarnya proses pembelajaran.

Ruang Kegiatan Belajar (RKB) Sekolah Dasar Negeri 2 Paisubatu yang terletak di Desa Talas-talas Kecamatan Buko Kabupaten Banggai Kepulauan dalam kondisi yang tidak layak untuk digunakan disebabkan mengalami rusak parah.

Kepala SD Negeri 2 Paisubatu Masri Melu, S.Pd.SD saat dijumpai di sekolah pada hari Jumat (6/3/2020) memaparkan bahwa “Bangunan yang dibangun sejak tahun 1978 ini, sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan karena kondisinya sudah rusak berat, seperti tiang bagian bumbungan ada kayu yang lapuk, atap bocor serta bagian plafon yang sudah jatuh dan bagian konsen yang lapuk dimakan usia”, ujar Masri.

Disamping itu, menurut Pak guru Beteno, “Memang pada tahun 2001 pernah direhap tapi hanya bagian yang mengalami kerusakan karena gempa pada tahun 2000 saja yang direhap tidak secara keseluruhannya”.

Lanjutnya, “Kondisi bangunan sebenarnya sudah tidak pantas digunakan tapi apa daya tidak ada ruang belajar untuk kelas 4, 5 dan 6 maka kami tetap gunakan bangunan walau pun beresiko”, jelas Beteno.

Kepsek Masri pun berharap “Kiranya ada perhatian khusus dari Dinas Dikbud serta Pemda Banggai Kepulauan, karena takutnya jangan ketika terjadi musibah baru ditangani, karena mengingat daerah kita rawan gempa”, tutup Kepsek SDN 2 Paisubatu. (JARkominfo)